Take a little breathing space

1432716446031

Hello readers (kalo ada )…….. long time no see, ( dadah-dadah ), jadi mau cerita nih, waktu dapat pengalaman kelapangan bersama tim yang okeh dan keceh dan mancep, wuiiihhh menuju tempat tujuannya itu loh, jauh sangat, masuk kepedalaman hutan, jalan yang naik turun dan bergelombang membuat perut ikut bergejolak dan menghabiskan waktu hampir seharian akhirnya sampai ditempat tujuan, but it’s worth buat pemandangan yang bikin mata gak bisa merem sepanjang perjalanan, well, aku gak akan cerita tentang pengalaman lapanganku sih, emmm mungkin nanti ada saatnya share pengalaman itu, but this time I want to share about “jarak”.

Jarak …. Jarak bisa membuat sesuatu dekat, bisa juga jauh, jarak juga bisa dibuat, bisa juga dihapuskan. Jarak, mendengar kata ini yang pertama kali muncul dibenakku adalah jarak dalam artian yang sebenarnya, jarak yang memisahkan sebuah tempat dengan tempat yang lainnya. Mungkin kamu juga, saat ditanya jarak apa, jawabnya ya dalam artian yang sebenarnya (mungkin ya ).

One day, seorang teman mengatakan saat ini dia ngerasa antara dia dan temannya ada jarak yang membuat dia merasa temannya itu menjauhinya. Aku pikir, ketika seserorang merasa ada jarak dengan yang lainnya, bisa jadi itu hanya perasaannya aja, istilah zaman sekarang baper = bawa perasan ( bawaanya laper bisa juga sih, hee ). Kadang, kita terbiasa menerka-nerka sesuatu tanpa bertanya kebenarannya dan mencoba untuk speak up, kebiasaan itu akhirnya menciptakaan jarak, tanpa sadar yang membuat jarak itu sendiri adalah diri kita sendiri. Seperti misalnya dua orang teman, suatu hari salah satu dari mereka menemukan kesibukan lain jadi gak bisa seperti dulu lagi, mostly (biasanya cewek) langsung saja salah satunya berfikir bahwa dia mungkin melakukan kesalahan yang temannya gak suka, atau mungkin saja dia sudah punya teman baru yang lebih asik, dan kemungkinan kemungkinan lainnya yang akhirnya jadi bikin malas ketemu, jalan bersama, terciptalah jarak tanpa kata. Padahal pada kenyataanya hal yang terjadi adalah sesuatu yang sederhana, kenapa gak nanya langsung ke orang yang bersangkutan bahwa dia semakin susah diajak keluar dan sebagainya, at least jawaban yang didapat cukup melegakan dan mungkin bisa nyari solusinya barengan. Because thats what friends are for.

Terkadang diri sendiri terlalu selfish untuk bertanya, untuk mengaku, berharap orang lain mengerti dengan apa yang dimaksud tanpa harus berbicara. Hey… manusia gak punya telepati dan gak bisa membaca pikiran apalagi suara yang keluar dari dalam hati seperti yang sinetron dalam negeri sajikan.

IMO, Menghapus atau menciptakan sebuah jarak sangatlah mudah , there’s no need a weapon but an eraser, yaitu dengan saling biacara dan berterus terang dengan apa yang dirasakan (ehem ), blak-blakan gitu, suka gak suka bilang, jangan pendam-pendaman, mending kalo dipendam lama jadi berlian, laa kalo jd sampah kan berabe, jadi marah-marahnya yaa saat itu aja, trus pelukan dehh XD , but, you know what you’ll do when you want that space . I’m not the wise one , tapi aku pernah mengalami langsung, real tanpa rekayasa ( ok lebay, maapkan) sometimes telling what you think is better than a silent.

Have an awesome friendship 🙂

-P –

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

Up ↑

%d bloggers like this: